Pada 11 Juli 1979, Indonesia kembali berduka akibat salah satu kecelakaan penerbangan paling mematikan pada masanya. Sebuah Garuda Indonesia Fokker F-28 Mk-1000 dengan registrasi PK-GVE dan nama "Mamberamo" lepas landas dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, menuju Bandara Polonia, Medan. Pesawat dipiloti oleh Kapten A.E. Lontoh dan membawa 57 penumpang serta 4 awak. Penerbangan berlangsung normal hingga pesawat memasuki fase pendekatan untuk mendarat di Medan. Namun, menjelang tiba di tujuan, pesawat justru menghantam lereng Gunung Pertektekan, bagian dari kawasan Gunung Sibayak di Sumatera Utara. Seluruh 61 orang yang berada di dalam pesawat dinyatakan meninggal dunia. Sumber: https://aviation-safety.net/wikibase/328560 | https://en.wikipedia.org/wiki/1979_Garuda_Indonesian_Airways_Fokker_F28_crash
Berdasarkan data investigasi yang dipublikasikan oleh Aviation Safety Network, kecelakaan terjadi sekitar pukul 18.56 waktu setempat ketika pesawat tengah menjalankan prosedur pendekatan NDB (Non-Directional Beacon) menuju landasan pacu Bandara Polonia. Awak pesawat sebelumnya melaporkan akan mempertahankan ketinggian 6.000 kaki hingga melewati titik navigasi yang ditentukan. Namun, dalam kondisi tersebut pesawat akhirnya menabrak lereng Gunung Sibayak pada ketinggian sekitar 5.560 kaki. Peristiwa ini dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yaitu kondisi ketika pesawat yang masih berada dalam kendali penerbang tanpa mengalami kerusakan struktural justru menabrak permukaan bumi atau pegunungan akibat hilangnya kesadaran situasional maupun faktor navigasi. Sumber: https://aviation-safety.net/wikibase/328560 | https://aviation-safety.net/asndb/type/F28
Pesawat PK-GVE sendiri merupakan Fokker F-28 yang diproduksi pada tahun 1972 dan telah mencatat lebih dari 14.000 jam terbang sebelum kecelakaan. Saat itu, Fokker F-28 menjadi salah satu tulang punggung armada domestik Garuda Indonesia karena kemampuannya melayani rute-rute antarkota di Indonesia. Tragedi ini menjadi salah satu kecelakaan besar yang menyoroti tantangan operasi penerbangan di wilayah Indonesia yang memiliki banyak daerah pegunungan, terutama pada masa ketika teknologi navigasi dan sistem peringatan medan belum secanggih sekarang. Sumber: https://aviation-safety.net/wikibase/328560 | https://en.wikipedia.org/wiki/1979_Garuda_Indonesian_Airways_Fokker_F28_crash
Hingga kini, musibah Garuda Indonesia PK-GVE dikenang sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah keselamatan penerbangan nasional. Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan penerbangan merupakan hasil dari kombinasi teknologi, prosedur operasional, kondisi cuaca, navigasi, serta koordinasi yang baik antara awak pesawat dan pengatur lalu lintas udara. Berbagai perkembangan sistem navigasi modern, pelatihan awak, serta teknologi Terrain Awareness and Warning System (TAWS) yang diterapkan pada pesawat generasi berikutnya diharapkan mampu mengurangi risiko kecelakaan serupa di masa mendatang. Tragedi ini tetap menjadi bagian penting dari sejarah penerbangan Indonesia dan dikenang sebagai penghormatan bagi seluruh korban yang kehilangan nyawa pada 11 Juli 1979.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar