Pada 11 Juli 2007, Indonesia kembali dikejutkan oleh tragedi pelayaran ketika KM Wahai Star tenggelam di perairan antara Pulau Buru dan Pulau Ambon, Maluku. Kapal yang melayani rute Leksula–Ambon tersebut mengangkut puluhan penumpang, awak kapal, serta muatan berupa hasil bumi. Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan laut yang menyita perhatian nasional karena jumlah penumpang yang sebenarnya sempat simpang siur dan proses pencarian korban berlangsung dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Menurut laporan awal, KM Wahai Star mengalami musibah pada malam hingga dini hari saat berada di sekitar Pulau Tiga. Tim pencarian dan penyelamatan segera dikerahkan dengan melibatkan TNI AL, Kepolisian Perairan, kapal-kapal niaga yang berada di sekitar lokasi, serta nelayan setempat. Sejumlah korban berhasil ditemukan dalam keadaan selamat setelah berjam-jam terapung di laut menggunakan pelampung maupun benda-benda yang dapat mengapung. Namun, di sisi lain, sejumlah korban ditemukan meninggal dunia, sementara banyak lainnya dinyatakan hilang sehingga operasi pencarian terus diperluas hingga ke wilayah perairan Maluku dan Maluku Utara. Sumber: https://news.detik.com/berita/d-803777/km-wahai-star-tenggelam-di-perairan-maluku-2-orang-tewas
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kemudian melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut. Hasil investigasi menyimpulkan bahwa faktor utama berasal dari cuaca buruk dan gelombang tinggi yang melanda wilayah pelayaran. Dalam kondisi tersebut, sebuah perahu cepat yang sedang ditarik kapal menghantam bagian buritan KM Wahai Star hingga menyebabkan kebocoran. Air yang terus masuk membuat kapal kehilangan stabilitas, miring, lalu akhirnya tenggelam. Investigasi juga menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap peringatan cuaca, kesiapan peralatan keselamatan, serta pengawasan terhadap operasi pelayaran di daerah kepulauan yang memiliki risiko gelombang tinggi. Sumber: https://www.knkt.go.id/Repo/Files/Laporan/Pelayaran/2007/KNKT.07.07.05.03%20Wahai%20Star.pdf
Dalam perkembangan selanjutnya, jumlah korban terus berubah seiring ditemukannya korban selamat maupun jenazah selama operasi SAR. Beberapa penumpang bahkan ditemukan terdampar di pulau-pulau sekitar setelah hanyut mengikuti arus laut selama berhari-hari. Meski demikian, tidak semua korban berhasil ditemukan. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa transportasi laut di negara kepulauan seperti Indonesia memerlukan standar keselamatan yang tinggi, mulai dari kepatuhan terhadap prakiraan cuaca, pencatatan manifes penumpang yang akurat, hingga kesiapan awak kapal dalam menghadapi keadaan darurat. Peristiwa KM Wahai Star kemudian menjadi salah satu referensi penting dalam evaluasi keselamatan pelayaran nasional agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar