Pada 13 Juni 2018, perairan Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi saksi salah satu kecelakaan laut yang menelan banyak korban jiwa menjelang Hari Raya Idulfitri. Kapal Motor (KM) Arista yang berlayar dari Pelabuhan Paotere menuju Pulau Baranglompo mengalami kecelakaan di tengah perjalanan setelah dihantam angin kencang dan gelombang besar. Kapal tersebut terbalik dan tenggelam hanya beberapa mil dari titik keberangkatan, menyebabkan puluhan penumpang terjebak di laut dan memicu operasi penyelamatan besar-besaran oleh berbagai instansi terkait.
Menurut keterangan aparat dan tim SAR, KM Arista berangkat dari Pelabuhan Paotere sekitar pukul 12.30 WITA. Tidak lama setelah meninggalkan pelabuhan, kapal yang mengangkut warga Pulau Baranglompo tersebut menghadapi kondisi cuaca yang buruk. Ombak dan angin yang cukup kuat menyebabkan kapal kehilangan stabilitas hingga akhirnya terbalik. Tim gabungan yang terdiri atas Basarnas, Polair, TNI AL, serta nelayan setempat segera melakukan evakuasi terhadap para korban yang tercebur ke laut. Banyak korban berhasil diselamatkan, namun sejumlah lainnya ditemukan meninggal dunia.
Pada hari kejadian, laporan awal menyebutkan sedikitnya 13 korban meninggal dunia. Namun, proses pencarian yang berlangsung beberapa hari kemudian menemukan korban tambahan sehingga jumlah korban tewas terus bertambah. Data Basarnas yang diperbarui beberapa hari setelah kejadian menunjukkan korban meninggal mencapai 16 orang, sementara puluhan lainnya berhasil diselamatkan. Proses pendataan juga mengalami kendala karena kapal tidak memiliki manifes penumpang yang lengkap, sehingga jumlah pasti penumpang baru dapat dipastikan setelah dilakukan pendataan bersama aparat dan masyarakat Pulau Baranglompo.
Investigasi awal mengindikasikan bahwa cuaca buruk bukan satu-satunya faktor yang berkontribusi terhadap tragedi tersebut. Sejumlah laporan menyebutkan adanya dugaan kelebihan muatan. KM Arista diketahui merupakan kapal nelayan yang umumnya tidak dirancang sebagai kapal penumpang reguler. Selain membawa puluhan penumpang, kapal juga mengangkut berbagai barang kebutuhan menjelang Lebaran, bahkan beberapa kendaraan roda dua. Kondisi tersebut diduga memperburuk stabilitas kapal ketika menghadapi gelombang tinggi.
Faktor keselamatan juga menjadi sorotan. Banyak korban dilaporkan tidak menggunakan jaket pelampung saat kecelakaan terjadi. Selain itu, tidak adanya data manifes yang jelas menyulitkan proses pencarian dan identifikasi korban. Tragedi ini kemudian menjadi pengingat penting mengenai perlunya penerapan standar keselamatan pelayaran, terutama pada transportasi laut antarpulau yang banyak digunakan masyarakat pesisir dan kepulauan di Indonesia.
Peristiwa tenggelamnya KM Arista meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Pulau Baranglompo dan Sulawesi Selatan. Banyak korban merupakan perempuan dan anak-anak yang sedang melakukan perjalanan menjelang perayaan Idulfitri. Tragedi ini juga mendorong evaluasi terhadap pengawasan kapal tradisional, kapasitas angkut, serta ketersediaan perlengkapan keselamatan di jalur pelayaran rakyat agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Sumber: https://www.antaranews.com/berita/719110/satu-lagi-korban-km-arista-ditemukan
https://kumparan.com/kumparannews/13-korban-tewas-km-arista-yang-tenggelam-tak-pakai-pelampung
https://ekonomi.bisnis.com/read/20180613/98/806191/km-arista-karam-diduga-akibat-kelebihan-muatan
https://news.okezone.com/read/2018/06/16/340/1910813/basarnas-korban-kapal-tenggelam-di-makassar-orang-tewas
https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/GNlAMBgb-13-korban-tewas-km-arista-teridentfikasi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar