Pada 13 Juni 1996, dunia penerbangan Indonesia diguncang oleh kecelakaan Garuda Indonesia Penerbangan 865 (GA865), sebuah penerbangan internasional berjadwal dari Fukuoka, Jepang, menuju Jakarta melalui Denpasar, Bali. Pesawat yang digunakan adalah McDonnell Douglas DC-10-30 dengan registrasi PK-GIE dan membawa 260 penumpang serta 15 awak. Insiden terjadi saat pesawat sedang melakukan lepas landas dari Landasan Pacu 16 Bandara Fukuoka. Kecelakaan ini mengakibatkan 3 orang meninggal dunia dan lebih dari 100 lainnya mengalami luka-luka, menjadikannya salah satu kecelakaan penerbangan Garuda Indonesia yang paling dikenal pada dekade 1990-an. Sumber: kompas.com
Menurut hasil investigasi, pesawat telah memperoleh izin lepas landas dan melakukan akselerasi normal di landasan. Namun, beberapa detik setelah hidung pesawat mulai terangkat (rotation), mesin nomor 3 di sisi kanan mengalami kegagalan. Dalam kondisi tersebut, kapten memutuskan untuk membatalkan proses lepas landas meskipun kecepatan pesawat telah melampaui batas keputusan kritis (V1), yaitu titik ketika pesawat seharusnya melanjutkan penerbangan meski terjadi gangguan tertentu. Keputusan untuk menghentikan lepas landas pada fase tersebut membuat jarak yang tersisa di landasan tidak lagi cukup untuk menghentikan pesawat secara aman. Sumber: japantimes.co.jp
Setelah upaya pengereman dilakukan, pesawat tidak berhasil berhenti di dalam area bandara. DC-10 tersebut meluncur melewati ujung landasan, menembus pagar bandara, melintasi jalan dan parit, lalu berhenti sekitar 620 meter di luar batas runway. Benturan keras menyebabkan roda pendaratan dan beberapa bagian mesin terlepas. Badan pesawat mengalami kerusakan parah dan kemudian terbakar. Proses evakuasi berlangsung dalam situasi yang sangat sulit karena kobaran api dengan cepat menyebar ke bagian tengah dan belakang pesawat. Dari 275 orang di dalam pesawat, 272 berhasil selamat, sementara tiga penumpang kehilangan nyawa akibat benturan dan kebakaran yang terjadi setelah pesawat berhenti. Sumber: en.wikipedia.org
Komite Investigasi Kecelakaan Pesawat Jepang (Aircraft Accident Investigation Committee) kemudian melakukan penyelidikan menyeluruh. Laporan akhir menyimpulkan bahwa penyebab utama kecelakaan adalah keputusan awak kokpit untuk membatalkan lepas landas setelah pesawat melewati kecepatan V1 dan bahkan sempat terangkat dari landasan. Investigasi juga menemukan faktor pendukung berupa kurangnya koordinasi antara bagian operasi penerbangan dan pemeliharaan maskapai terkait informasi mengenai riwayat kegagalan komponen mesin serupa. Selain itu, bilah turbin pada mesin yang gagal diketahui telah melewati batas siklus operasi yang direkomendasikan oleh pabrikan. Sumber: jtsb.mlit.go.jp
Peristiwa Garuda Indonesia Penerbangan 865 menjadi pelajaran penting bagi industri penerbangan internasional mengenai pengambilan keputusan dalam kondisi darurat, pentingnya kepatuhan terhadap prosedur operasional standar, serta perlunya koordinasi yang baik antara divisi operasional dan pemeliharaan pesawat. Meski jumlah korban jiwa relatif lebih sedikit dibanding banyak kecelakaan pesawat besar lainnya, insiden ini tetap dikenang sebagai salah satu kecelakaan paling serius yang pernah dialami Garuda Indonesia di luar negeri dan menjadi bahan pembelajaran dalam dunia keselamatan penerbangan hingga saat ini. Sumber: japantimes.co.jp dan kompas.com
Sumber utama yang dapat diakses langsung:
jtsb.mlit.go.jp�
japantimes.co.jp�
japantimes.co.jp�
kompas.com�
en.wikipedia.org�

Tidak ada komentar:
Posting Komentar