Yoi

Kamis, 11 Juni 2026

11 Juni 1860 - Kesultanan Banjar dihapus

 Pada 11 Juni 1860, sebuah keputusan penting yang mengubah sejarah politik Kalimantan diumumkan oleh Residen Belanda di Banjarmasin, Frederik Nicolaas (F.N.) Nieuwenhuijzen. Melalui keputusan tersebut, Pemerintah Hindia Belanda secara sepihak menghapus Kesultanan Banjar dan meniadakan pengakuan terhadap kerajaan-kerajaan yang berada di bawah pengaruhnya di Kalimantan. Keputusan ini juga diikuti dengan pencabutan dukungan Belanda terhadap Tamjidullah II yang sebelumnya diangkat sebagai Sultan Banjar dengan dukungan kolonial. Langkah tersebut menandai berakhirnya eksistensi Kesultanan Banjar sebagai lembaga politik yang diakui pemerintah kolonial. Sumber: �

historia.id

Latar belakang keputusan ini tidak dapat dipisahkan dari situasi politik yang berkembang setelah pecahnya Perang Banjar pada tahun 1859. Konflik tersebut berawal dari campur tangan Belanda dalam urusan suksesi Kesultanan Banjar. Dukungan Belanda terhadap Tamjidullah II memicu ketidakpuasan sebagian kalangan bangsawan dan rakyat Banjar yang menganggap Pangeran Hidayatullah lebih berhak atas takhta sesuai wasiat Sultan Adam. Ketegangan yang terus meningkat akhirnya berkembang menjadi perlawanan bersenjata terhadap pemerintahan kolonial. Sumber: �

tirto.id

Pada akhir 1859, pemerintah kolonial di Batavia telah memutuskan bahwa Kesultanan Banjar tidak akan lagi dipertahankan sebagai kerajaan vasal. Keputusan tersebut kemudian direalisasikan melalui proklamasi resmi yang diumumkan oleh F.N. Nieuwenhuijzen pada 11 Juni 1860. Sejak saat itu, wilayah bekas Kesultanan Banjar ditempatkan langsung di bawah administrasi Hindia Belanda. Struktur pemerintahan tradisional yang selama lebih dari tiga abad menjadi pusat kekuasaan politik Banjar secara resmi dibubarkan dan digantikan oleh sistem administrasi kolonial. Sumber: �

jurnal.fkip.unmul.ac.id

Meskipun Kesultanan Banjar secara resmi dihapus, perlawanan rakyat terhadap Belanda tidak serta-merta berakhir. Tokoh-tokoh seperti Pangeran Antasari, Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman, dan para pengikutnya terus melanjutkan perjuangan melalui perang gerilya di berbagai wilayah pedalaman Kalimantan. Bahkan setelah institusi kesultanan dibubarkan, semangat perlawanan tetap bertahan selama puluhan tahun dan baru benar-benar mereda pada awal abad ke-20. Perjuangan tersebut menjadikan Perang Banjar sebagai salah satu konflik anti-kolonial terpanjang dalam sejarah Indonesia. Sumber: �

journal.upy.ac.id




Peristiwa 11 Juni 1860 menjadi titik balik penting dalam sejarah Kalimantan Selatan. Penghapusan Kesultanan Banjar menandai berakhirnya salah satu kesultanan Islam terbesar di Kalimantan yang telah berdiri sejak abad ke-16. Namun demikian, berakhirnya kekuasaan politik kesultanan tidak menghapus warisan budaya, identitas, dan memori sejarah masyarakat Banjar yang tetap hidup hingga masa kini sebagai bagian penting dari sejarah Indonesia. Sumber: �:::

Tidak ada komentar:

Posting Komentar