Yoi

Rabu, 13 Mei 2026

13-14 Mei 2018 - Teror Bom Surabaya

 Pada 13–14 Mei 2018, Indonesia diguncang salah satu rangkaian aksi teror paling mematikan setelah era Bom Bali. Dalam kurun waktu kurang dari 48 jam, serangkaian bom bunuh diri terjadi di tiga gereja di Kota Surabaya, sebuah rumah susun di Sidoarjo, serta Markas Polrestabes Surabaya. Sedikitnya 15 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini menjadi perhatian nasional maupun internasional karena para pelaku diketahui melibatkan satu keluarga, termasuk anak-anak, dalam aksi teror tersebut. �

Kompas Nasional + 1




Rangkaian serangan dimulai pada Minggu pagi, 13 Mei 2018. Tiga gereja menjadi sasaran hampir secara bersamaan, yaitu Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno, dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro. Ledakan pertama terjadi saat jemaat tengah bersiap mengikuti misa dan ibadah Minggu pagi. Kepolisian kemudian mengungkap bahwa aksi tersebut dilakukan oleh satu keluarga yang dipimpin Dita Oepriarto, yang disebut sebagai pimpinan lokal jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. Setiap anggota keluarga memiliki peran berbeda dalam pengeboman di tiga lokasi tersebut. �

Harianjogja.com + 2

Pada malam harinya, ledakan kembali terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Polisi menduga ledakan tersebut berasal dari bom rakitan yang meledak lebih awal saat sedang dipersiapkan. Dari hasil penyelidikan, pelaku di Sidoarjo diketahui masih memiliki hubungan dan jaringan yang sama dengan pelaku pengeboman gereja di Surabaya. Kapolri saat itu menyebut para pelaku saling mengenal dan terhubung dalam jaringan JAD yang berafiliasi dengan kelompok ekstremis ISIS. �

IDN Times + 1

Keesokan harinya, Senin 14 Mei 2018 pukul 08.50 WIB, bom bunuh diri kembali terjadi di gerbang masuk Mapolrestabes Surabaya. Aksi itu dilakukan menggunakan sepeda motor yang ditumpangi satu keluarga. Ledakan terjadi di dekat pos pemeriksaan kendaraan dan menyebabkan sejumlah anggota polisi serta warga sipil terluka. Rekaman CCTV yang beredar luas memperlihatkan detik-detik ledakan ketika kendaraan pelaku mendekati gerbang markas kepolisian. �

IDN Times + 1

Peristiwa Bom Surabaya memunculkan kekhawatiran besar terkait pola baru aksi terorisme di Indonesia, terutama penggunaan unit keluarga sebagai pelaku utama. Organisasi internasional seperti Human Rights Watch⁠� menyoroti keterlibatan anak-anak dalam serangan tersebut sebagai bentuk eksploitasi ekstrem terhadap keluarga oleh jaringan radikal. Pemerintah Indonesia kemudian memperketat operasi pemberantasan terorisme dan memperkuat regulasi antiteror setelah tragedi tersebut. �

Human Rights Watch + 1

Sumber:

Kompas.com - Bom Surabaya, Antara Dendam dan Pembuktian Eksistensi ISIS⁠�

Kompas.com - Sederet Kasus Bom di Indonesia yang Dikaitkan dengan JAD⁠�

Human Rights Watch - Pelaku Bom Bunuh Diri ISIS Memanfaatkan Anak-Anak Dalam Empat Serangan⁠�

IDN Times - Kronologi Bom di Polrestabes Surabaya⁠�

Liputan6 - Kronologi Bom Bunuh Diri Mapolrestabes Surabaya⁠�

Tidak ada komentar:

Posting Komentar