Pada 12 Mei 1980, salah satu kecelakaan transportasi paling tragis pada era itu terjadi di jalur perlintasan kereta wilayah Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Peristiwa tersebut melibatkan Kereta Api Bima II dengan bus antarkota milik PO Arimbi. Tabrakan maut itu terjadi di perlintasan sebidang di sekitar Jalan Ahmad Yani, Kroya, ketika bus Arimbi yang sedang melakukan perjalanan menuju Jakarta melintas bersamaan dengan datangnya KA Bima II dari arah Purwokerto. Benturan keras tidak dapat dihindari. Lokomotif kereta menghantam badan bus hingga terseret dan hancur di sekitar rel. Dampak tabrakan begitu besar hingga lokomotif CC201 yang menarik rangkaian KA Bima ikut keluar rel dan miring di dekat tanggul jalur kereta. �
Universitas STEKOM + 2
Kecelakaan tersebut menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Sedikitnya 21 penumpang bus meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka berat maupun ringan. Beberapa sumber menyebut korban luka mencapai sekitar 58 hingga 60 orang. Banyak korban mengalami cedera serius akibat badan bus yang ringsek setelah terseret kereta. Pada masa itu, sistem keselamatan di banyak perlintasan sebidang Indonesia masih sangat terbatas. Tidak semua perlintasan memiliki palang pintu otomatis, lampu peringatan, ataupun penjagaan penuh selama 24 jam. Kondisi tersebut sering menjadi faktor tingginya risiko kecelakaan antara kendaraan jalan raya dan kereta api. �
Antara Foto + 2
Kereta Api Bima sendiri dikenal sebagai salah satu layanan unggulan di Pulau Jawa. Karena statusnya sebagai kereta jarak jauh dengan kecepatan relatif tinggi pada masanya, benturan dengan kendaraan besar seperti bus menghasilkan energi tabrakan yang sangat besar. Insiden ini kemudian menjadi salah satu pengingat penting mengenai lemahnya sistem pengamanan perlintasan kereta di Indonesia pada dekade 1970-an hingga 1980-an. Dalam berbagai catatan sejarah kecelakaan perkeretaapian nasional, tragedi Bima II vs Bus Arimbi kerap disebut sebagai salah satu kecelakaan paling memilukan sebelum terjadinya Tragedi Bintaro tahun 1987. �
Universitas STEKOM + 2
Peristiwa tersebut juga memperlihatkan bagaimana keselamatan transportasi darat pada masa itu masih menghadapi banyak tantangan, mulai dari disiplin pengguna jalan, keterbatasan teknologi sinyal perlintasan, hingga minimnya infrastruktur pengamanan. Seiring waktu, pemerintah dan operator perkeretaapian mulai meningkatkan sistem keselamatan dengan pembangunan palang otomatis, penjagaan perlintasan, sosialisasi keselamatan, serta penutupan sejumlah perlintasan liar. Meski demikian, kecelakaan di perlintasan sebidang masih menjadi ancaman hingga sekarang apabila pengguna jalan tidak mematuhi aturan saat melintas rel kereta api. Tragedi KA Bima II dan Bus Arimbi menjadi salah satu pengingat penting bahwa beberapa detik kelalaian di perlintasan dapat berujung pada bencana besar yang merenggut banyak nyawa. �
Universitas STEKOM + 2
Sumber lengkap:
ANTARA Foto – Kecelakaan Kereta Api Bima dengan Bis Arimbi�
Daftar Kecelakaan Kereta Api di Indonesia – STEKOM�
Wikipedia – List of Rail Accidents in Indonesia�
Wikipedia – Bima Train�
Tidak ada komentar:
Posting Komentar