Tragedi Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 9760D, 2 Agustus 2009
Pada Minggu, 2 Agustus 2009, Merpati Nusantara Airlines Penerbangan 9760D melayani rute Sentani, Jayapura, menuju Oksibil, Papua. Pesawat yang digunakan adalah de Havilland Canada DHC-6 Twin Otter 300 dengan registrasi PK-NVC. Di dalamnya terdapat 15 orang, terdiri dari 12 penumpang dan tiga awak. Penerbangan tersebut dijadwalkan berlangsung sekitar 50 menit.
Pesawat berangkat dari Bandara Sentani pada pagi hari dan terbang dengan aturan penerbangan visual atau Visual Flight Rules (VFR). Rute menuju Oksibil merupakan wilayah dengan kondisi geografis yang menantang karena dikelilingi pegunungan. Sekitar 20 menit setelah keberangkatan, pesawat kehilangan kontak dan kemudian dinyatakan hilang. Tim pencari dan penyelamat segera melakukan pencarian di wilayah Pegunungan Bintang.
Dua hari kemudian, lokasi pesawat berhasil ditemukan di kawasan pegunungan dekat Oksibil. Kementerian Perhubungan melaporkan bahwa bangkai pesawat ditemukan pada ketinggian sekitar 9.300 kaki atau kurang lebih 2.835 meter di atas permukaan laut. Proses evakuasi tidak mudah karena medan pegunungan dan kondisi cuaca yang berubah cepat. Tim SAR bahkan harus menunggu kondisi cuaca yang memungkinkan untuk mendekati lokasi kecelakaan.
Investigasi kemudian dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Berdasarkan laporan investigasi, pesawat sedang menjalankan penerbangan VFR yang mengharuskan awak menjaga jarak dari awan dan mempertahankan referensi visual. Rekaman Cockpit Voice Recorder menunjukkan bahwa kondisi cuaca dan jarak pandang menjadi bagian penting dalam rangkaian kejadian sebelum kecelakaan.
Laporan investigasi menyimpulkan bahwa pesawat telah masuk ke awan ketika bergerak menuju sebuah celah di kawasan pegunungan. Posisi kecelakaan berada di sebelah timur laut dari jalur yang biasanya digunakan menuju Oksibil. Pesawat kemudian menghantam medan pegunungan dalam kondisi terkendali, yang dalam terminologi keselamatan penerbangan dikenal sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT). Dampaknya menghancurkan pesawat dan seluruh 15 orang di dalamnya meninggal dunia.
Investigasi juga mencatat bahwa sekitar 20 menit sebelum kecelakaan, awak Twin Otter sempat berdiskusi mengenai kondisi cuaca di wilayah Oksibil dengan awak pesawat Hercules TNI Angkatan Udara. Sekitar 10 menit sebelum benturan, kapten menyebut rencana untuk naik hingga 10.000 kaki dan kemungkinan berbelok apabila kondisi visual tidak memungkinkan. Beberapa saat menjelang kecelakaan, kopilot kembali mempertanyakan kondisi jarak pandang dan keamanan arah penerbangan.
Peristiwa Merpati 9760D menjadi salah satu kecelakaan penerbangan fatal di Papua yang menunjukkan besarnya tantangan operasi penerbangan di wilayah pegunungan. Faktor cuaca, keterbatasan informasi meteorologi sepanjang rute, kondisi medan, serta keputusan operasional menjadi bagian penting dalam analisis keselamatan kecelakaan tersebut. Tragedi ini juga menjadi pengingat bahwa penerbangan di wilayah pegunungan membutuhkan kewaspadaan tinggi terhadap kondisi cuaca dan medan.
Sumber:
Laporan investigasi kecelakaan KNKT – PK-NVC / Merpati 9760D
Kementerian Perhubungan RI – Pesawat Merpati Twin Otter ditemukan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar