Yoi

Sabtu, 15 Agustus 2026

16 Agustus 2015 - Insiden Pesawat Trigana Air Service



Pada 16 Agustus 2015, Indonesia kembali berduka akibat kecelakaan penerbangan yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat. Trigana Air Service Penerbangan IL267, menggunakan pesawat ATR 42-300 dengan registrasi PK-YRN, dijadwalkan terbang dari Bandara Sentani, Jayapura, menuju Bandara Oksibil, Papua. Di dalam pesawat terdapat 54 orang, terdiri atas 49 penumpang dan 5 awak. Pesawat lepas landas dari Sentani pada pukul 05.22 UTC atau sekitar 14.22 WIT, dengan perkiraan tiba di Oksibil sekitar pukul 06.04 UTC. �

Laporan Final KNKT – Trigana Air IL267⁠�

KNKT +1

Dalam perjalanan menuju Oksibil, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penting. Laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan bahwa di sekitar Oksibil terdapat awan yang menutupi lebih dari separuh langit, dengan dasar awan sekitar 8.000 kaki dan jarak pandang sekitar 4–5 kilometer. Area jalur pendekatan terakhir juga tertutup awan. Pada pukul 05.55 UTC, pilot menghubungi petugas Oksibil Aerodrome Flight Information Services dan melaporkan sedang turun di sekitar Abmisibil serta bermaksud melakukan pendekatan menuju landasan 11. �

Dokumen investigasi KNKT⁠�

KNKT

Sekitar lima menit kemudian, petugas Oksibil memperkirakan pesawat seharusnya sudah berada di jalur final. Namun, komunikasi dari IL267 tidak kunjung diterima. Upaya menghubungi pesawat tidak mendapat jawaban. Pesawat kemudian dinyatakan kehilangan kontak. Beberapa waktu setelah pencarian dilakukan, lokasi pesawat akhirnya ditemukan di kawasan Pegunungan Tanggo, Distrik Okbape, sekitar 10 nautical miles dari Bandara Oksibil. Bangkai pesawat berada di ketinggian sekitar 8.300 kaki di atas permukaan laut. Seluruh 54 orang di dalam pesawat dinyatakan meninggal dunia. �

Laporan Investigasi KNKT⁠�

KNKT

Investigasi KNKT kemudian menemukan bahwa pesawat dalam kondisi laik terbang dan awak memiliki lisensi serta sertifikat medis yang berlaku. Namun, penyelidikan menemukan sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan. Pesawat menyimpang dari panduan pendekatan visual dalam kondisi cuaca dan medan yang menantang, sementara referensi visual terhadap medan sangat terbatas. Akibatnya, pesawat terus terbang menuju medan pegunungan hingga terjadi benturan dengan permukaan tanah atau controlled flight into terrain. �

KNKT

KNKT juga menemukan bahwa sistem Enhanced Ground Proximity Warning System (EGPWS), yang berfungsi memberikan peringatan ketika pesawat berada dalam kondisi berbahaya terhadap medan, kemungkinan tidak berfungsi. Data Flight Data Recorder tidak berhasil dipulihkan, sedangkan data dari Cockpit Voice Recorder berhasil diperoleh. Rekaman tersebut tidak menunjukkan adanya peringatan EGPWS sebelum benturan. KNKT menyimpulkan bahwa tidak adanya peringatan tersebut turut menyebabkan awak tidak menyadari kondisi berbahaya yang sedang dihadapi. �

KNKT

Tragedi IL267 menjadi salah satu kecelakaan penerbangan paling mematikan dalam sejarah Trigana Air Service. Peristiwa ini juga menjadi pengingat penting mengenai tantangan penerbangan di wilayah pegunungan, terutama ketika kondisi cuaca membatasi jarak pandang. KNKT kemudian menyampaikan sejumlah rekomendasi keselamatan kepada Trigana Air Service, AirNav Indonesia, dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk meningkatkan keselamatan penerbangan. �

Situs resmi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)⁠�

KNKT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar