Yoi

Senin, 01 Juni 2026

31 Mei 1935 - Buya Syafi'i

 31 Mei 1935 menjadi tanggal penting dalam sejarah intelektual Islam Indonesia dengan lahirnya Ahmad Syafii Maarif di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau, Sumatera Barat. Sosok yang kemudian dikenal luas sebagai Buya Syafii Maarif ini tumbuh dari lingkungan sederhana di tengah masyarakat Minangkabau yang kuat memegang tradisi pendidikan agama dan adat. Sejak kecil, ia telah menghadapi berbagai tantangan hidup, termasuk kehilangan ibunya saat masih balita. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghentikan semangat belajarnya. Ia menempuh pendidikan umum di Sekolah Rakyat sekaligus belajar agama di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Perjalanan pendidikan itu menjadi fondasi penting bagi pemikiran kritis dan sikap moderat yang kelak melekat pada dirinya. �

Muhammadiyah + 1




Pada usia muda, Buya Syafii merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah. Kehidupan perantauan tidak selalu mudah. Ia pernah mengalami kesulitan ekonomi hingga harus bekerja sebagai guru di berbagai daerah demi menyambung hidup dan melanjutkan pendidikan. Namun semangat intelektualnya terus berkembang. Ia kemudian menyelesaikan studi sejarah di IKIP Yogyakarta sebelum melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Gelar master diraihnya di Ohio University, sedangkan gelar doktor diperoleh dari University of Chicago dengan fokus kajian pemikiran Islam dan politik Indonesia. Pendidikan internasional tersebut membentuk perspektifnya sebagai ulama yang berpikir terbuka, kritis, dan tetap berpijak pada nilai keislaman serta kebangsaan Indonesia. �

RiauOnline + 2

Nama Buya Syafii Maarif semakin dikenal ketika ia aktif di organisasi Muhammadiyah dan akhirnya menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998–2005. Masa kepemimpinannya berlangsung pada periode penting pasca-Reformasi Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, ia dikenal sebagai tokoh yang konsisten menyuarakan toleransi, demokrasi, keadilan sosial, dan persatuan nasional. Pemikirannya sering kali melampaui sekat organisasi maupun kepentingan politik praktis. Karena pandangan-pandangannya yang kritis dan independen, ia dihormati banyak kalangan sebagai “Guru Bangsa”. Meski demikian, beberapa pendapatnya juga memunculkan kontroversi, terutama ketika ia mengkritik praktik politik identitas atau sikap kelompok tertentu dalam kehidupan berbangsa. Namun Buya Syafii tetap dikenal sebagai figur yang terbuka terhadap dialog dan menjunjung nilai kemanusiaan. �

RiauOnline + 2

Selain aktif sebagai ulama dan pemimpin organisasi, Buya Syafii juga produktif menulis buku, artikel, serta menjadi pembicara di berbagai forum nasional maupun internasional. Ia mendirikan Maarif Institute sebagai wadah pengembangan gagasan keislaman, kebangsaan, dan pluralisme di Indonesia. Kesederhanaan hidupnya turut menjadi sorotan publik. Banyak masyarakat mengenangnya sebagai intelektual besar yang tetap hidup sederhana dan dekat dengan rakyat. Setelah wafat pada 27 Mei 2022 di Yogyakarta, berbagai tokoh nasional lintas agama dan politik menyampaikan penghormatan atas dedikasinya bagi Indonesia. Warisan pemikiran Buya Syafii Maarif hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam diskusi tentang Islam, demokrasi, dan kebangsaan di Indonesia. �

Muhammadiyah + 2

Sumber lengkap:

muhammadiyah.or.id⁠�

kompas.tv⁠�

maarifinstitute.org⁠�

medcom.id⁠�

Tidak ada komentar:

Posting Komentar