Pada 9 Mei 2012, dunia penerbangan Indonesia diguncang oleh kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 tipe RRJ-95B registrasi 97004 yang menabrak lereng Gunung Salak di Jawa Barat. Pesawat buatan Rusia tersebut sedang menjalani demonstration flight atau penerbangan promosi bagi calon pelanggan dan media di Indonesia. Penerbangan berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dengan membawa 45 orang yang terdiri dari awak, perwakilan maskapai, jurnalis, dan tamu undangan. Namun beberapa saat setelah meminta izin menurunkan ketinggian dan melakukan manuver orbit, pesawat tiba-tiba hilang dari radar. Keesokan harinya, tim pencari menemukan puing-puing pesawat di tebing curam Gunung Salak, dan dipastikan tidak ada korban selamat. �
Airplanes24 + 1
Proses evakuasi berlangsung sangat sulit karena lokasi jatuhnya pesawat berada di medan pegunungan yang curam, berkabut, dan sulit dijangkau. Tim SAR gabungan harus menggunakan helikopter dan pemanjatan manual untuk mengevakuasi korban serta serpihan pesawat. Tragedi ini menjadi perhatian internasional karena Sukhoi Superjet 100 saat itu merupakan pesawat andalan baru industri penerbangan Rusia yang tengah dipasarkan ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Kecelakaan tersebut juga menimbulkan duka mendalam karena banyak korban berasal dari kalangan profesional penerbangan dan media. �
Airplanes24 + 1
Investigasi dilakukan oleh KNKT Indonesia bersama pihak Rusia dan berbagai lembaga internasional. Berdasarkan laporan akhir KNKT yang dirilis pada Desember 2012, tidak ditemukan kerusakan sistem maupun gangguan teknis pada pesawat. Data cockpit voice recorder (CVR) dan flight data recorder (FDR) menunjukkan pesawat dalam kondisi layak terbang sebelum kecelakaan terjadi. Investigasi menyimpulkan bahwa kecelakaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk ketidaksadaran awak pesawat terhadap kondisi medan pegunungan di sekitar jalur penerbangan serta diabaikannya peringatan Terrain Awareness Warning System (TAWS). Selain itu, perhatian pilot disebut teralihkan oleh percakapan di kokpit selama penerbangan demonstrasi berlangsung. �
Kompas Nasional + 2
KNKT juga menyoroti faktor pendukung lain, termasuk keterbatasan sistem radar Jakarta yang saat itu belum dilengkapi fitur Minimum Safe Altitude Warning (MSAW) untuk area pegunungan tertentu seperti Gunung Salak. Kawasan Gunung Salak sendiri dikenal memiliki cuaca cepat berubah dan kontur pegunungan yang berbahaya bagi navigasi udara. Dalam rentang beberapa tahun sebelum 2012, kawasan tersebut memang telah beberapa kali menjadi lokasi kecelakaan pesawat. �
ANTARA News + 1
Tragedi Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak menjadi salah satu kecelakaan udara paling dikenang dalam sejarah penerbangan Indonesia modern. Peristiwa ini tidak hanya memicu evaluasi terhadap prosedur keselamatan penerbangan demonstrasi, tetapi juga meningkatkan perhatian terhadap disiplin awak pesawat, penggunaan sistem peringatan medan, serta kesiapan navigasi di wilayah pegunungan Indonesia. Hingga kini, tragedi tersebut masih sering dibahas dalam dokumenter dan komunitas investigasi kecelakaan udara sebagai contoh penting bagaimana kombinasi faktor manusia, lingkungan, dan sistem pendukung dapat berujung fatal. �
Kompas Nasional + 2
Sumber lengkap:
Kompas - KNKT Tak Temukan Kerusakan Sistem di Sukhoi�
Kompas - Tiga Sebab Pesawat Sukhoi Menabrak Gunung Salak�
The Jakarta Post - Pilots Blamed for Sukhoi Crash�
Wikipedia - 2012 Mount Salak Sukhoi Superjet Crash�
ANTARA - Failure of Jakarta Radar Caused Sukhoi Crash�

Tidak ada komentar:
Posting Komentar