Yoi

Minggu, 03 Mei 2026

5 Mei 1923 - Peresmian Radio Malabar

 Peresmian Stasiun Radio Malabar pada 5 Mei 1923 merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah teknologi komunikasi di Indonesia dan dunia. Stasiun radio yang terletak di kawasan Gunung Puntang, Bandung Selatan ini diresmikan oleh Dirk Fock sebagai bagian dari ambisi besar pemerintah Hindia Belanda untuk membangun jaringan komunikasi jarak jauh tanpa kabel yang mampu menghubungkan wilayah koloninya dengan Eropa. Pada masa itu, komunikasi antar benua masih sangat terbatas dan bergantung pada kabel bawah laut yang rentan terhadap gangguan, sehingga kehadiran teknologi radio nirkabel menjadi sebuah terobosan revolusioner. (Historia.ID) 





Pembangunan Radio Malabar sendiri telah dimulai sejak sekitar tahun 1916 dan selesai pada 1923, dengan melibatkan teknologi mutakhir pada zamannya. Stasiun ini dirancang oleh insinyur elektro Cornelis Johannes de Groot dan menggunakan sistem pemancar gelombang sangat panjang (VLF) dengan daya yang luar biasa besar, mencapai sekitar 2400 kW. Antena raksasa bahkan dibentangkan di antara pegunungan untuk memaksimalkan jangkauan sinyal. Dengan teknologi tersebut, Radio Malabar mampu menjalin komunikasi langsung antara Hindia Belanda dan Belanda dengan jarak sekitar 12.000 kilometer, menjadikannya salah satu sistem komunikasi paling canggih di dunia pada awal abad ke-20. (RRI.co.id) 

Peresmian pada 5 Mei 1923 berlangsung dalam kondisi yang tidak sepenuhnya ideal. Beberapa hari sebelumnya, badai tropis sempat merusak sebagian peralatan penting sehingga mengancam jalannya acara. Meskipun demikian, peresmian tetap dilaksanakan dengan pengiriman pesan telegraf radio ke Ratu Belanda sebagai simbol dimulainya era baru komunikasi nirkabel. Namun, pada hari itu sinyal belum berhasil diterima dengan baik di Belanda. Sambungan komunikasi baru benar-benar berhasil dilakukan pada malam hari berikutnya, menandai keberhasilan teknologi ini secara penuh. (RRI.co.id) 

Secara historis, Radio Malabar memiliki peran strategis tidak hanya dalam bidang teknologi, tetapi juga dalam aspek politik dan ekonomi kolonial. Keberadaannya memungkinkan komunikasi yang lebih cepat dan efisien antara pemerintah kolonial di Indonesia dengan pusat kekuasaan di Belanda, sehingga memperkuat kontrol administrasi dan perdagangan. Selain itu, keberhasilan proyek ini juga menempatkan Hindia Belanda sebagai salah satu pelopor dalam perkembangan komunikasi radio global pada masanya. (Historia.ID) 

Namun, kejayaan Radio Malabar tidak berlangsung selamanya. Pada masa pendudukan Jepang, fasilitas ini sempat dimanfaatkan untuk kepentingan militer dan propaganda. Setelah itu, dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, stasiun ini dihancurkan oleh pejuang Republik agar tidak dimanfaatkan kembali oleh pihak Belanda. Peristiwa ini membuat Radio Malabar berakhir sebagai simbol teknologi sekaligus saksi bisu dinamika sejarah kolonial dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kini, yang tersisa hanyalah reruntuhan yang menjadi bagian dari warisan sejarah dan objek wisata edukatif. (RRI.co.id) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar